Sabtu, 27 Februari 2016

Resensi Buku Anak Rembulan




Resensi Buku Anak Rembulan

 




IDENTITAS BUKU
Judul Buku/Novel              : Anak Rembulan: Negeri Mistik di Balik
                                             Pohon Kenari
Penerbit                                : Mizan-Fantasi
Penulis                                  : Djokolelono
Penyunting                          : Ary Nilandari
Jumlah Halaman                : 350 halaman
ISBN                                       : 978-979-433-637-3
Harga                                    : Rp. 50.000
Cetakan                                : Agustus 2011

KEPENGARANGAN
Djoko Lelono atau lebih dikenal dengan nama pena Djokolelono lahir pada tanggal 10 April 1944  lahir di Blitar, Jawa Timur. Beliau adalah seorang penulis buku dari Indonesia yang aktif pada tahun 70-an hingga 80-an. Dikenal sebagai penulis buku fiksi-ilmiah seperti seri Penjelajah Antariksa (Bencana di Planet Poa, Sekoci Penyelamat, Kunin Bergolak), Jatuh ke Matahari dan sekuelnya, Bintang Hitam. Selain menulis buku fiksi-ilmiah, Djokolelono juga dikenal sebagai penulis buku anak-anak, seperti seri Astrid, dan beberapa cerita wayang. Djokolelono juga adalah seorang penerjemah. Karya-karyanya baik novel maupun karya terjemahannya diterbitkan oleh Dunia Pustaka Jaya, Gramedia, dan BPK Gunung Mulia. Belakangan ini karyanya juga diterbitkan oleh Mizan-Fantasi.

GAMBARAN SINGKAT
Nono ketakutan. Kenapa dia bisa tersesat di dalam sebatang pohon kenari? Padahal dia hanya ingin mengambil sepedanya yang tersandar di sana. Dan siapa pula anak berkulit hitam misterius yang memancingnya ke sana? Nono ingin keluar. Tapi di dalam pohon itu, membentang dunia berbeda. Dia tiba di zaman Belanda!
Itu belum seberapa. Masih banyak hal aneh lain. Misalnya, gadis bermata biru cantik yang bisa berubah menjadi burung kenari. Gerombolan Semut Hitam. Anak Rembulan. Dunia macam apa ini? Nono ingin sekali kembali ke rumah kakek buyutnya yang nyaman. Tapi mungkinkah dia bisa kembali, kalau ternyata dia harus memimpin sebuah perang mencekam di dunia misteri itu?

SINOPSIS
Nono yang sudah kelas 5 SD berlibur ke Wlingi menemui eyangnya, Mbah Sastro. Suatu hari Nono ditugaskan membeli tahu goreng ke Njari, tempat Mbah Pur buyutnya. Ia bersepeda, dan memutuskan beristirahat di pagar bambu tepi Kali Njari. Nono melihat-lihat pohon kenari dan mengingat kembali cerita Mbah Pur, “Jembatan Njari sangat penting bagi Belanda. Ia mengirimkan pasukannya lewat jalur ini, terus ke Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibu kota sementara kita,” dan ia melihat Kali Njari, “Pada zaman dahulu, pemerintah menjinakkan Gunung Kelud dengan membuat saluran di kawahnya, dan bersambung ke Kali Njari ini. Saat Gunung Kelud meletus, lahar dinginnya tersalurkan lewat kali ini.” Nono mencelupkan kakinya ke dalam Kali Njari tersebut, namun lama-kelamaan kakinya terseret sejenis ikat pinggang tentara. Memanjang. Ditariknya. Berat. Dan ia terjerumus.
Nono melihat-lihat, tempat itu ternyata sepi. Kembali ke pohon kenari tadi, batangnya tampak rompal seperti bekas dikapak. Tadi tidak. Terus berjalan dan bertemu seorang anak, hitam dan dekit ada diatas pohon itu. Ia masuk ke dalam rongga pohon kenari, berkeliling ditemani Trimo. Oh, anak yang hilang di zaman penjajahan dulu ada disini? Dilihatnya anak itu hanya memakai secarik kain yang dibebatkan di pinggangnya. Nono tak bisa bersuara. Jauh disana jembatan itu hilang, kali itu menembus semak belukar disana. Dan pohon kenari itu tidak ada.
Dari situlah petualangan Anak Rembulan, sebutan Nono di dunia tersebut dimulai. Terjebak menjadi pembantu Mbok Rimbi sang pengikut iblis Si Dewi. Nono ditargetkan menjadi persembahan berikutnya, namun ia bertemu Geng Semut Hitam, dan Pangeran Mahesasuro yang menyelamatkannya. Ia dibawa ke istana untuk menghadap Sri Ratu Merah yang kejam oleh Pangeran, Mbok Rimbi lolos, dan Semut Hitam ditangkap karena suka mencuri. Disana, ia diletakkan di rumah panggung yang terdapat buayanya. Nono naik ke atap, dan tanpa disangka ia melihat Mbah Padmo, sang pendekar dari selatan bertemu dengan Pangeran Mahesasuro, dan merencanakan penyerbuan istana Ratu. Nono mendengarnya dari atas, dan setelahnya ia melihat burung nuri turun dan berubah wujud dengan wajah bule yang cantik, Non Saarce. Nono membantu Sri Ratu untuk bersiasat untuk mengalahkan pasukan Pangeran Lembusuro dan Pangeran Mahesasuro yang menjadi pimpinan tertinggi negara tersebut.
Menurut Nono mudah saja caranya, ia hanya berpikir untuk menyembunyikan harta istana dan Sri Ratu dengan bantuan Semut Hitam. “Jika Semut Hitam dibantu pasukan yang ada memindahkan harta istana, ketika pasukan Wolanda datang, mereka takkan menemukan harta yang mereka cari. Mereka marah kepada sang Pangeran, dan saling serang.” Ucap Nono yakin. Konflik sekitar peperangan antara Sri Ratu dengan kedua pangeran sakti tersebut berlanjut. Nono dan Semut Hitam ikut membantu di pihak Sri Ratu. Menjebak pasukan Pangeran di Sumur Jalatunda. Namun Nono yang salah jalan juga terjebak disana, bertemu Non Saarce dan Trimo. Dibantu oleh Pinten, mereka bersembunyi di salah satu dinding, dan mendengarkan pertempuran kedua Pangeran, si Dewi, serta Kapitan. Mereka menunggu, sampai Pinten memekik, Pangeran Mahesasuro dan Lembusuro menyatukan kekuatan yang sangat dahsyat, belum sempat Pinten menyuruh Nono pergi, guncangan dahsyat terasa memekakkan telinga. Serta hawa panas yang menggempur ke dalam. Dan gelap!
Nono membuka mata, setelah membaca potongan kalimat di koran, Nono tahu kalau ia menjadi korban Gunung Kelud yang meletus, dan berhasil diselamatkan oleh Saarce. Ia tak mengerti apa yang dialaminya selama liburan ini, yang ia tahu sisa hari itu semua terasa deja vu.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Kelebihan
Kelebihan novel ini adalah dapat membuat pembaca berijiminasi dengan mengikuti petualangan Nono yang mengasyikkan, walau terkadang tegang. Selain itu, kelebihan lainnya adalalah Djokolelono membuat novel ini dengan bahasa yang tidak berbelit-belit, dan mudah dipahami walau banyak konflik yang disajikan.
Kekurangan
Novel ini memiliki ending yang tidak memuaskan para pembaca, dan sedikit dipaksakan karena terlalu banyaknya kebetulan di sisa hari Nono di Njari tersebut.   
KRITIK DAN SARAN

Kisah fiksi-fantasi yang mengingat kita kepada zaman peperangan Belanda dengan kerajaan terdahulu. Menghadirkan tokoh-tokoh yang tak terduga, seperti lima pandawa, dan sang penjaga Gunung Kelud Mahesasuro, dan Lembusuro. Alurnya asyik, dan mengalir apa adanya. Sayang, endingnya sedikit dipaksakan.
Pokoknya yang ingin membaca fiksi-fantasi karya dalam negeri, karya Djokolelono ini bisa dijadikan referensi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar