Resensi Buku Anak Rembulan
IDENTITAS BUKU
Judul Buku/Novel : Anak Rembulan: Negeri Mistik di Balik
Pohon Kenari
Penerbit : Mizan-Fantasi
Penulis : Djokolelono
Penyunting : Ary Nilandari
Jumlah Halaman : 350 halaman
ISBN : 978-979-433-637-3
Harga : Rp. 50.000
Cetakan : Agustus 2011
Judul Buku/Novel : Anak Rembulan: Negeri Mistik di Balik
Pohon Kenari
Penerbit : Mizan-Fantasi
Penulis : Djokolelono
Penyunting : Ary Nilandari
Jumlah Halaman : 350 halaman
ISBN : 978-979-433-637-3
Harga : Rp. 50.000
Cetakan : Agustus 2011
KEPENGARANGAN
Djoko Lelono atau lebih dikenal dengan nama pena Djokolelono lahir pada tanggal 10 April 1944 lahir di Blitar, Jawa Timur. Beliau adalah seorang penulis buku dari Indonesia yang aktif pada tahun 70-an hingga 80-an. Dikenal sebagai penulis buku fiksi-ilmiah seperti seri Penjelajah Antariksa (Bencana di Planet Poa, Sekoci Penyelamat, Kunin Bergolak), Jatuh ke Matahari dan sekuelnya, Bintang Hitam. Selain menulis buku fiksi-ilmiah, Djokolelono juga dikenal sebagai penulis buku anak-anak, seperti seri Astrid, dan beberapa cerita wayang. Djokolelono juga adalah seorang penerjemah. Karya-karyanya baik novel maupun karya terjemahannya diterbitkan oleh Dunia Pustaka Jaya, Gramedia, dan BPK Gunung Mulia. Belakangan ini karyanya juga diterbitkan oleh Mizan-Fantasi.
Djoko Lelono atau lebih dikenal dengan nama pena Djokolelono lahir pada tanggal 10 April 1944 lahir di Blitar, Jawa Timur. Beliau adalah seorang penulis buku dari Indonesia yang aktif pada tahun 70-an hingga 80-an. Dikenal sebagai penulis buku fiksi-ilmiah seperti seri Penjelajah Antariksa (Bencana di Planet Poa, Sekoci Penyelamat, Kunin Bergolak), Jatuh ke Matahari dan sekuelnya, Bintang Hitam. Selain menulis buku fiksi-ilmiah, Djokolelono juga dikenal sebagai penulis buku anak-anak, seperti seri Astrid, dan beberapa cerita wayang. Djokolelono juga adalah seorang penerjemah. Karya-karyanya baik novel maupun karya terjemahannya diterbitkan oleh Dunia Pustaka Jaya, Gramedia, dan BPK Gunung Mulia. Belakangan ini karyanya juga diterbitkan oleh Mizan-Fantasi.
GAMBARAN
SINGKAT
Nono ketakutan. Kenapa dia bisa tersesat di dalam sebatang pohon kenari? Padahal dia hanya ingin mengambil sepedanya yang tersandar di sana. Dan siapa pula anak berkulit hitam misterius yang memancingnya ke sana? Nono ingin keluar. Tapi di dalam pohon itu, membentang dunia berbeda. Dia tiba di zaman Belanda!
Nono ketakutan. Kenapa dia bisa tersesat di dalam sebatang pohon kenari? Padahal dia hanya ingin mengambil sepedanya yang tersandar di sana. Dan siapa pula anak berkulit hitam misterius yang memancingnya ke sana? Nono ingin keluar. Tapi di dalam pohon itu, membentang dunia berbeda. Dia tiba di zaman Belanda!
Itu belum seberapa. Masih
banyak hal aneh lain. Misalnya, gadis bermata biru cantik yang bisa berubah
menjadi burung kenari. Gerombolan Semut Hitam. Anak Rembulan. Dunia macam apa
ini? Nono ingin sekali kembali ke rumah kakek buyutnya yang nyaman. Tapi
mungkinkah dia bisa kembali, kalau ternyata dia harus memimpin sebuah perang
mencekam di dunia misteri itu?
SINOPSIS
Nono yang sudah kelas 5 SD berlibur ke Wlingi menemui eyangnya, Mbah Sastro. Suatu hari Nono ditugaskan membeli tahu goreng ke Njari, tempat Mbah Pur buyutnya. Ia bersepeda, dan memutuskan beristirahat di pagar bambu tepi Kali Njari. Nono melihat-lihat pohon kenari dan mengingat kembali cerita Mbah Pur, “Jembatan Njari sangat penting bagi Belanda. Ia mengirimkan pasukannya lewat jalur ini, terus ke Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibu kota sementara kita,” dan ia melihat Kali Njari, “Pada zaman dahulu, pemerintah menjinakkan Gunung Kelud dengan membuat saluran di kawahnya, dan bersambung ke Kali Njari ini. Saat Gunung Kelud meletus, lahar dinginnya tersalurkan lewat kali ini.” Nono mencelupkan kakinya ke dalam Kali Njari tersebut, namun lama-kelamaan kakinya terseret sejenis ikat pinggang tentara. Memanjang. Ditariknya. Berat. Dan ia terjerumus.
Nono yang sudah kelas 5 SD berlibur ke Wlingi menemui eyangnya, Mbah Sastro. Suatu hari Nono ditugaskan membeli tahu goreng ke Njari, tempat Mbah Pur buyutnya. Ia bersepeda, dan memutuskan beristirahat di pagar bambu tepi Kali Njari. Nono melihat-lihat pohon kenari dan mengingat kembali cerita Mbah Pur, “Jembatan Njari sangat penting bagi Belanda. Ia mengirimkan pasukannya lewat jalur ini, terus ke Yogyakarta, yang saat itu menjadi ibu kota sementara kita,” dan ia melihat Kali Njari, “Pada zaman dahulu, pemerintah menjinakkan Gunung Kelud dengan membuat saluran di kawahnya, dan bersambung ke Kali Njari ini. Saat Gunung Kelud meletus, lahar dinginnya tersalurkan lewat kali ini.” Nono mencelupkan kakinya ke dalam Kali Njari tersebut, namun lama-kelamaan kakinya terseret sejenis ikat pinggang tentara. Memanjang. Ditariknya. Berat. Dan ia terjerumus.
Nono melihat-lihat, tempat itu
ternyata sepi. Kembali ke pohon kenari tadi, batangnya tampak rompal seperti
bekas dikapak. Tadi tidak. Terus berjalan dan bertemu seorang anak, hitam dan
dekit ada diatas pohon itu. Ia masuk ke dalam rongga pohon kenari, berkeliling
ditemani Trimo. Oh, anak yang hilang di zaman penjajahan dulu ada disini?
Dilihatnya anak itu hanya memakai secarik kain yang dibebatkan di pinggangnya.
Nono tak bisa bersuara. Jauh disana jembatan itu hilang, kali itu menembus
semak belukar disana. Dan pohon kenari itu tidak ada.
Dari situlah petualangan Anak
Rembulan, sebutan Nono di dunia tersebut dimulai. Terjebak menjadi pembantu
Mbok Rimbi sang pengikut iblis Si Dewi. Nono ditargetkan menjadi persembahan
berikutnya, namun ia bertemu Geng Semut Hitam, dan Pangeran Mahesasuro yang
menyelamatkannya. Ia dibawa ke istana untuk menghadap Sri Ratu Merah yang kejam
oleh Pangeran, Mbok Rimbi lolos, dan Semut Hitam ditangkap karena suka mencuri.
Disana, ia diletakkan di rumah panggung yang terdapat buayanya. Nono naik ke
atap, dan tanpa disangka ia melihat Mbah Padmo, sang pendekar dari selatan
bertemu dengan Pangeran Mahesasuro, dan merencanakan penyerbuan istana Ratu.
Nono mendengarnya dari atas, dan setelahnya ia melihat burung nuri turun dan
berubah wujud dengan wajah bule yang cantik, Non Saarce. Nono membantu Sri Ratu
untuk bersiasat untuk mengalahkan pasukan Pangeran Lembusuro dan Pangeran
Mahesasuro yang menjadi pimpinan tertinggi negara tersebut.
Menurut Nono mudah saja
caranya, ia hanya berpikir untuk menyembunyikan harta istana dan Sri Ratu
dengan bantuan Semut Hitam. “Jika Semut
Hitam dibantu pasukan yang ada memindahkan harta istana, ketika pasukan Wolanda
datang, mereka takkan menemukan harta yang mereka cari. Mereka marah kepada
sang Pangeran, dan saling serang.” Ucap Nono yakin. Konflik sekitar
peperangan antara Sri Ratu dengan kedua pangeran sakti tersebut berlanjut. Nono
dan Semut Hitam ikut membantu di pihak Sri Ratu. Menjebak pasukan Pangeran di
Sumur Jalatunda. Namun Nono yang salah jalan juga terjebak disana, bertemu Non
Saarce dan Trimo. Dibantu oleh Pinten, mereka bersembunyi di salah satu
dinding, dan mendengarkan pertempuran kedua Pangeran, si Dewi, serta Kapitan.
Mereka menunggu, sampai Pinten memekik, Pangeran Mahesasuro dan Lembusuro
menyatukan kekuatan yang sangat dahsyat, belum sempat Pinten menyuruh Nono
pergi, guncangan dahsyat terasa memekakkan telinga. Serta hawa panas yang menggempur
ke dalam. Dan gelap!
Nono membuka mata, setelah
membaca potongan kalimat di koran, Nono tahu kalau ia menjadi korban Gunung
Kelud yang meletus, dan berhasil diselamatkan oleh Saarce. Ia tak mengerti apa
yang dialaminya selama liburan ini, yang ia tahu sisa hari itu semua terasa deja vu.
KELEBIHAN
DAN KEKURANGAN
Kelebihan
Kelebihan novel ini adalah
dapat membuat pembaca berijiminasi dengan mengikuti petualangan Nono yang
mengasyikkan, walau terkadang tegang. Selain itu, kelebihan lainnya adalalah
Djokolelono membuat novel ini dengan bahasa yang tidak berbelit-belit, dan
mudah dipahami walau banyak konflik yang disajikan.
Kekurangan
Novel ini memiliki ending yang
tidak memuaskan para pembaca, dan sedikit dipaksakan karena terlalu banyaknya
kebetulan di sisa hari Nono di Njari tersebut.
KRITIK
DAN SARAN
Kisah fiksi-fantasi yang
mengingat kita kepada zaman peperangan Belanda dengan kerajaan terdahulu. Menghadirkan
tokoh-tokoh yang tak terduga, seperti lima pandawa, dan sang penjaga Gunung
Kelud Mahesasuro, dan Lembusuro. Alurnya asyik, dan mengalir apa adanya.
Sayang, endingnya sedikit dipaksakan.
Pokoknya yang ingin membaca
fiksi-fantasi karya dalam negeri, karya Djokolelono ini bisa dijadikan
referensi.
